Thursday, 11 August 2011

Bahaya Lidah Dan Keutamaan Diam (Bahaya Pertama 5)

Begitu pula, engkau bertanya tentang sesuatu persoalan, yang tidak perlu bagi engkau. Dan yang ditanya itu, kadang kadang tidak membolehkan bagi dirinya, untuk mengatakan: "Aku tidak tahu!". Lalu ia menjawab tanpa melihat lebih jauh.
Aku tidak maksudkan dengan kata kata yang tidak penting itu, segala jenis yang tersebut. Kerana perkataan itu berlaku padanya dosa atau melarat. Contoh perkataan yang tidak penting, ialah apa yang dirawikan, bahawa Lukmanulhakim masuk ketempat Nabi Daud a.s. Dan Nabi Daud a.s. itu sedang menjahit baju besinya. Dan Lukmanulhakim belum pernah melihat baju besi sebelum hari itu. Lalu ia amat hairan dari apa yang dilihatnya. Ia bermaksud menayakannya yang demikian. Tetapi dilarang oleh hikmahnya (Kebijaksanaannya). Maka ia menahan dirinya dan tidak ditanyakannya.
                                 Takala telah siap, lalu Nabi Daud a.s. berdiri dan memakai baju besi itu. Kemudian ia berkata: "Bagus sekali baju besi ini untuk perang". Maka Lukman menjawab: "Diam itu suatu hukum dan sedikitlah yang melaksanakannya".
                                 Artinya: pengetahuan itu berhasil, tanpa ditanyakan. Lalu tidak memerlukan kepada pertanyaan. Ada yang mengatakan, bahwa Luman pulang pegi kapada Daud a.s. selama setahun. Ia bermaksud mengetahui yang demikian tanpa bertanya.
                                 Inilah dan contoh contohnya, dari pertanyaan pertanyaan, apabila tak ada padanya melarat, tidak merusakkan rahasia yang tertutup, tidak menjerumuskan kedalam ria dan bohong. Dan itu termasuk apa yang tidak penting. Dan meninggalkannya termasuk kebagusan Islam seseorang.
                                 Itulah  batasnya.
                                 Adapun sebab yang membangkitkan kepada berkata kata, ialah: ingin mengetahui apa yang tidak perlu kepadanya. Atau banyak perkataan, kepada jalan berkasih kasihan. Atau mengisi waktu dengan ceritera ceritera hal ihwal yang tidak berfaedah.
                                 Obatnya semua itu, ialah: tahu bahwa mati berada dihadapannya. Ia bertanggung jawab dari setiap perkatan yang diucapkannya. Nafasnya itu adalah modalnya. Lidahnya itu jala, yang sanggup untuk menangkap didadari. Maka menyia nyiakan yang demikian dan membuang buang waktunya, adalah kerugian yang nyata.
                                 Inilah obatnya dari segi pengetahuan!
                                 Adapun dari segi amal, maka ialah: mengasingkan diri atau meletakkan batu kecil pada mulutnya. Membiasakan dirinya diam dari sebahagian yang penting baginya. Sehingga terbiasalah lidahnya, meninggalkan hal yang tidak penting. Dan mengedalikan lidah dalam hal ini bagi orang yang tidak mengasingkan diri, adalah sulit sekali.

No comments:

Post a Comment

About Me

My photo
Quick tempered,friendly,sometimes talkative.

Followers

Total Pageviews

ads

Search This Blog