Yunus bin Ubaid berkata: "Tiada seseorang manusia yang lidahnya diatas yang baik, melainkan aku melihat kebaikan itu pada amalannya yang lain".Al-Hasan Al-Bashari berkata: "Suatu kaum (golongan) berkata kata disamping Mu'awiah bin Abi Sufyan. Dan Al-Ahnaf bin Qais itu diam. Lalu Mu'awiah bertanya kepada Al-Ahnaf: "Bagaimana engkau, hai Aba Bahr, tiada berkata kata?". Lalu Al-Ahnaf menjawab: "Aku takut kepada Allah, jikalau aku bohong dan aku takut kepada engkau, jikalau aku benar".
Abubakar bin 'Ayyasy berkata: "Berkumpullah empat orang raja, yaitu: raja India, raja Cina, raja Parsia (Kisra) dan raja Rum (Kaiser). Salah seorang mereka berkata: "Aku menyesal terhadap apa yang sudah aku katakan dan tidak menyesal terhadap apa yang tidak aku katakan:. Yang lain berkata pula: "Aku apabila berkata kata dengan suatu perkataan, maka perkataan itu menguasai aku dan aku tiada menguasainya. Dan apabila aku tiada berkata kata dengan perkataan itu, maka aku menguasainya dan ia tiada menguasai aku". Yang ketiga berkata: "Aku heran terhadap orang yang berbicara, jikalau perkatannya itu kembali kepadanya, niscaya mendatangkan kemelaratan baginya". Dan jikalau tidak kembali, niscaya tiada bermanfaat baginya". Raja yang keempat berkata: "Aku lebih sanggup menolak apa yang tidak aku katakan, daripada menolak apa yang aku katakan".
Ada yang mengatakan, bahwa Al-Mansur bin Al-Nu'taz tinggal, tidak berkata kata dengan sepatah kata pun sesudah salat 'Isya, selama empat puluh tahun. Ada yang mengatakan, bahwa Ar-Rabi' bin Khaisan tidak berkata kata dengan perkataan dunia, selama dua puluh tahun. Apa bila pagi hari, ia meletakkan tinta, kertas dan pena, lalu semua yang diucapkannya ditulisnya. Kemudian, ia menghitungkan dirinya pada petang hari. Kalau anda bertanya: kelebihan besar ini bagi diam, apa sebabnya? Maka ketahuilah, bahwa sebabnya adalah banyaknya bahaya lidah, dari kesalahan, bohong, mengumpat, lalat merah, ria, nifaq (sifat bermuka dua), perkataan keji perbantahan, membersihkan diri, terjun dalam perbuatan batil, permusuhan, perbuatan yang sia sia, menyeleweng, menambahkan, mengurangi, menyakiti orang lain dan merusak kehormatan orang (membuka hal hal yang seharusnya ditutup)
Inilah bahaya yang banyak. Dan menghalau kepada lidah, yang tidak berat bagi lidah. Mempunyai keenakan pada hati. Ada pengerak pengerak dari sifat (tabi'at) manusia dan setan. Orang yang terjun pada hal hal diatas, sedikitlah yang sanggup menahan lidahnya. Lalu dilepaskannya menurut yang disukainya dan ditahannya dari yang tiada disukainya. Yang demikian itu termasuk pengetahuan yang sulit, sebagaimana akan datang uraiannya.
Terjun dalam hal hal tersebut iu berbahaya. Dan pada diam itu selamat. Maka karena itulah, besar keutamaan diam. Dan ini bersama yang terkandung dalam diam itu, yaitu: terkumpul cita cita, tetapnya kerohamatan diri, pengunaan waktu untuk berfikir, untuk berzikir dan untuk beribadah, selamat dari mengikutkan kata kata pada urusan duniawi dan dari hitungan (hisabnya) dihari akhirat.

No comments:
Post a Comment