Batas perkataan tentang yang tidak penting bagi engkau, ialah: bahawa engkau berkata kata dengan perkataan, di-mana jikalau engkau diam dari perkataan itu, niscaya engkau tidak berdosa.Dan tidak mendatangkan melarat bagi engkau dalam hal dan harta apa pun. Umpamanya: engkau duduk bersama orang banyak. Lalu engkau sebutkan kepada mereka tentang perjalanan engkau dan apa yang engkau lihat dalam perjalanan itu, mengenai gunung gunung, sungai sungai, kejadian kejadian yang terjadi atas diri engkau, apa yang engkau rasakan baik, dari hal makanan dan pakaian dan apa yang engau merasa heran tentang kepala kepala kampung dan perisitiwa peristiwa mereka.
Inilah hal hal, jikalau engkau diam daripadanya, niscaya engkau tidak berdosa dan tidak melarat. Apabila engkau berusaha sungguh sungguh, sehingga ceritera engkau itu tidak bercampur dengan tambahan, dengan kekurangan dan dengan pembersihan diri, di-mana merasa bangga dengan menyaksikan hal hal yang besar dan tidak ada pula mencaci seseorang dan mencela sesuatu dari apa yang di-jadikan oleh Allah Ta'ala, maka meskipun demikian semuanya, engkau adalah menyia nyiakan waktu engkau. Semoga engkau selamat dari bahaya bahaya yang telah kami sebutkan itu!
Di-antara jumlah bahaya tersebut, bahawa engkau bertanya kepada orang lain tentang yang tidak penting bagi engkau. Maka dengan pertanyaan itu, engkau menyia nyiakan waktu engkau. Dan engkau bawa pula teman engkau itu dengan jawapan tadi, kepada menyia nyiakan waktunya. Dan ini, apabila hal itu tidak mendatangkan bahaya pada pertanyaan tersebut. Dan kebanyakan pertanyaan, ada bahayanya. Sesungguhnya engkau menanyakan orang lain tentang ibadahnya-umpamanya-, lalu engkau bertanya: "Adalah engkau berpuasa?" Kalau ia menjawab: "Ada!". maka orang itu menampakkan ibadahnya. Lalu masuklah ria kepadanya. Jikalau tidak masuk ria, niscaya ibadahnya jatuh dari pembukaan rahasia. Dan ibadah rahasia itu, melebihi dari ibadah terang (yang diperlihatkan) dengan beberapa tingkat.
Dan kalau dia menjawab: "Tidak!", maka orang itu membohong. Dan kalau ia diam (tidak menjawab), maka ia menghina engkau. Dan engkau merasa sakit dengan demikian. Dan kalau ia mencari helah untuk menolak jawapan, niscaya ia memerlukan kepada tenaga dan letih. Maka sesungguhnya engkau telah kemukakan kepadanya pertanyaan, adakalanya karena ria atau bohong atau menghina atau untuk memayahkannya pada mencari helah untuk menolak. Dan begitu pula pertanyaan engkau pada ibadah ibadah lainnya.
Demikian juga, pertanyaan engkau dari hal perbuatan ma'siat dan dari tiap tiap yang di-sembunyikan dan ia malu daripadanya. Dan pertanyaan engkau tentang apa yang dibicarakan orang lain, lalu engkau bertanya kepadanya: "Apa yang anda katakan? Dan pada soal apa anda sekarang?". Begitu pula engkau melihat manusia di jalan, lalu engkau bertanya: "Dari mana?". Kadang kadang ada sesuatu yang melarangnya untuk di sebutkannya. Kalau di sebutkannya, niscaya ia merasa sakit dan merasa malu. Dan kalau ia tidak menyebut dengan benar, niscaya ia jatuh dalam kedustaan. Dan adalah engkau yang menjadi sebabnya.

No comments:
Post a Comment